Pendaki-Pendaki Cilik

“Mendepa!” perintah Yanus selaku pemimpin apel.

Ketika pemimpin apel memerintahkan untuk mendepa, semua anggota barisan harus merentangkan kedua tangannya.

Kami menurut, merentangkan tangan sambil menengok ke kiri dan ke kanan agar barisan sejajar. “Geser, geser.”

 “Lencang kanan, grak! Istirahat di tempat, grak!” komando Tanus sambil memastikan kerapian barisan.

 Hari ini kami diizinkan untuk pulang lebih awal. Guru-guru di sekolah kami akan mempersiapkan diri untuk kegiatan Hari PGRI di Kota Bajawa selama 3 hari. Itulah sebabnya, kami diimbau untuk belajar di rumah hingga beberapa hari ke depan. Ibu Sinta memerintahkan kami untuk membuat sebuah karangan tentang kegiatankegiatan yang kami lakukan selama di rumah. Maka, setibanya di rumah, saya mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kelas kami itu.

Saya mengawali karangan ini dengan sebuah perkenalan.

Nama saya Maria Fatima Bupu. Orang-orang terdekat biasa memanggil saya Nona Bupu. Saya bersekolah di SD Inpres Kolokoa. Saya memiliki dua orang sahabat yang bernama Maria Astuti Sede dan Sherliana Dhone. Tuti dan Sherlin, begitu saya memanggilnya.

Kami sama-sama tinggal di Kampung Watumeze, Kabupaten Ngada. Tahukah kalian di mana Kabupaten Ngada berada? Kabupaten Ngada terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ibu kota Kabupaten Ngada adalah Bajawa. Itulah sebabnya masyarakat Kabupaten Ngada lebih dikenal dengan istilah orang Bajawa. Saya bangga menjadi orang Bajawa. Kami memiliki adat dan budaya yang sangat kental. Selain itu, masyarakat Bajawa biasa dikenal ramah, pekerja keras, dan menjunjung tinggi toleransi.

 “Nona, mai gita zili uma!” seru Tuti dari luar rumah.

Saya berhenti menulis ketika mendengar seruan Tuti.

Ia dan Sherlin mengajak saya pergi ke kebun.

“Saya sedang membuat karangan, Tuti,” jawab saya.

“Lanjut besok sa,” timpal Sherlin sembari menunjukkan sebaris giginya.

 “Libur masih panjang, mengapa buru-buru sekali menyelesaikan tugas itu?” “Lagi pula, bukankah karangan itu berisi tentang kegiatan-kegiatan kita selama di rumah? Memangnya kau sudah melakukan apa?” tanya Tuti kepada saya.

Setelah berpikir sejenak akhirnya saya memilih untuk pergi ke kebun, mengikuti ajakan Tuti dan Sherlin. Ada benarnya juga perkataan Tuti tentang isi karangan itu. Saya belum melakukan kegiatan apa pun, bagaimana bisa saya melanjutkan tulisan itu?

Di tengah perjalanan menuju kebun, kami bertemu dengan seorang perempuan. Ia sangat cantik, tetapi wajahnya tampak asing. Kami belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.

 “Hai,” sapanya dengan ramah dan lembut.

 “Halo.” Kami menjawab dengan kompak.

 “Perkenalkan. Nama saya Tiara.” Ia mengulurkan tangan kanannya, bermaksud untuk mengajak berjabat tangan.

Dari tas yang dipakainya, saya bisa memastikan bahwa Kak Tiara adalah seorang wisatawan. Saya terbiasa melihat orang-orang seperti Kak Tiara di Kampung Adat Bena dan Kampung Adat Luba. Biasanya saya mengantar wisatawan untuk berfoto di sekitar ngadhu dan bagha. Ngadhu adalah simbol bagi leluhur laki-laki, berupa tiang yang dipayungi oleh alang-alang, sedangkan bagha merupakan simbol bagi leluhur perempuan, bentuknya menyerupai rumah kecil.

Selain tas yang ia bawa, Kak Tiara juga tampil beda dengan menggunakan penutup kepala. Orang-orang biasa menyebutnya dengan jilbab atau hijab. Di daerah kami, mayoritas penduduknya beragama Katolik. Jadi, saya sangat yakin kalau Kak Tiara adalah seorang pendatang. Kami berebut untuk berjabat tangan dengan Kak Tiara. Ia tertawa terbahak-bahak melihatnya. Tuti yang badannya lebih besar daripada saya dan Sherlin berhasil meraih tangan Kak Tiara secepat kilat.

“Saya Maria Astuti Sede. Teman-teman panggil saya Tuti Sede,” ucap Tuti.

“Nama saya Sherliana Dhone. Panggil saja Sherlin Dhone.” Sherlin turut memperkenalkan diri. Tak lupa ia menutup perkenalannya dengan membubuhkan senyum manis.

“Nama saya Maria Fatima Bupu. Kak Tiara boleh panggil saya Nona Bupu.”

Kak Tiara mengernyit. Ia pasti bingung dengan nama panggilan saya yang terbilang unik. Ia juga kelihatan terkejut dengan nada suara kami yang cenderung keras.

Nona_Bupu_ok.pdf (kemdikbud.go.id)


Kerjakan soal melalui link berikut ini : GLS 26 Oktober 2023
Share:

1 komentar: