MIE AYAM BAKSO
Bun, besok aku ulang tahun boleh ya nanti istirahat traktir teman sekelas di Mas Item?” tanya Rara kepada Bundanya di dapur yang sedang memasak.
“Aku
sering ditraktir juga lho Bun kalau mereka ulang tahun, temanku sekelas kan
hanya 24 Bun… boleh ya Bun,” ujar Rara merajuk. Bundanya menatap Rara sambil
tersenyum.
“Boleh,
nanti Bunda kasih uangnya besok saja,” ujar Bunda sambil menyuruhku menyimpan
tempe goreng di meja makan. Ah senangnya hatiku.
Terbayang besok teman-temanku pasti gembira aku traktir. Aku jadi senyum-senyum sendiri deh tak sabar menunggu esok hari.
Pagi ini aku banjir ucapan dari bunda dan ayah, serta kak Fafa. Aku tahu di keluarga kami tak pernah merayakan ulang tahun. Paling hanya bagi-bagi makanan ke tetangga atau kami sekeluarga makan bersama di restauran.
“Kamu gaya Rara, baru kelas 7 SMP sudah traktir teman sekelas,” ujar Kak Fafa waktu sarapan. Aku hanya tersenyum senang. Ahh Kak Fafa pasti ngiri deh!
Di sekolah aku banjir ucapan dari teman-teman, betapa bangga dan senangnya mereka perhatian terhadapku seperti itu.
“Hallo teman-teman, istirahat aku traktir deh mie ayam bakso di Mas Item yaa…!” seruku setengah berteriak di depan kelas dengan bangganya. Semua teman bersorak gembira.
Ada sedikit rasa sombong ketika memberi pengumuman di depan kelas bahwa aku akan mentraktir. Apalagi setelah aku lirik Dina yang sombong itu!
“Kamu punya uangnya Ra?” bisik Rumi teman sebangkuku. Aku keluarkan uang tadi yang di beri bunda sebanyak Rp.240.000.
Istirahat tiba, teman-teman sekelas berlarian berebut pesan mie ayam bakso pada Mas Item. Betapa senangnya aku. ini baru pertama kali mentraktir mereka. Biasanya kalau aku ulang tahun, bunda hanya membuat cake dan di potong-potong di kelas kemudian dibagikan.
“Ayo teman-teman, selamat menikmati ya, oh iya Adam kamu doyan pedas kan? tanyaku sambil mengambilkan dua sendok makan sambal pada Adam temanku yang paling subur tubuhnya.
“Trimakasih ya Ra,” ujar Adam dengan mulut penuh mie.
Aku
bersama Rumi menikmati mie ayam itu dengan lahap, tandas tuntas. Di sekolah
kami mie ayam bakso Mas Item itu rasanya tiada duanya. Bikin lidah bergoyang.
Setelah
semua selesai, aku hampiri Mas Item mau membayar semua itu.
“Mas Item makasih ya, ini lho uangnya,” ujarku sambil memberikan uang untuk membayar. Mas Item langsung menghitungnya.
“Uangnya
kurang Neng Rara,” ujar Mas Item. Aku terkejut mendengarnya.
“Lho
temanku kan 24 orang Mas, aku kasih uangnya pas kok, kata Bundaku kalau
temannya 24 orang kan jadinya Rp. 240.000,” ujarku berusaha menjelaskan.
“Harganya naik kali ya Mas Item?” tanya Rumi. Mas Item tersenyum.
“Harganya
tak naik, per porsi Rp. 10.000 Neng Rara. Teman neng Rara tadi juga ada yang
makan bakwan 5 buah. Harga 1 bakwan Rp. 1.500,” ujar Mas Item menjelaskan
sambil tersenyum.
“Temanku
24 orang Mas, bukan 25!” seruku. Wahh Mas Item salah menghitung nih!
Mas
item malahan tertawa mendengar pembelaanku. Aku dan Rumi saling pandang heran.
“Neng Rara, temannya Neng Rara memang 24 orang, Neng Rara kan juga makan mie ayam?,” jelas Mas Item.
Oh
iya ya, ternyata aku yang salah hitung. Aduh aku malu banget.
“Sttt… Mas Item sini deh,” ujarku dengan suara pelan memanggil Mas Item agar mendekat. Mas Item menghampiriku. Aku tengok kiri dan kanan.
“Aku
ngutang ya Mas, besok aku minta Bundaku,”
bisikku pelan agar tak ada yang mendengarnya. Bisa malu kalau teman-teman tahu.
Apalagi Dina!
“Oke,
Neng Rara…,” ujar Mas Item sambil tersenyum ramah.
Teman-teman
yang baik, kasihan Rara ya ?
Dia
kebingungan uangnya kurang dan kesulitan menghitungnya.
Tolong
dong kalian hitung hutang Rara yang harus dibayarkan ke Mas Item.
.png)
0 Comments:
Posting Komentar